Kamis, 01 Maret 2012

Materi Mata Kuliah Psikologi Belajar

Hakikat Proses Belajar



Menurut Morris L. Bigge (1982:11) ada dua kelompok teori tentang belajar:
a. Teori belajar sebelum abad ke-20 :
  • Teori disiplin mental : proses belajar terjadi jika mental anak dilatih/didisiplinkan. Perwujudannya melalui metode latihan dan resitasi. Tokoh kontemporer teori disiplin mental : M.J. Adler, Harry S. Broudy, R.M. Hutchins. Macam teori ini:
    • Teori disiplin mental teistik (theistic mental discipline)
Tokohnya : St. Augustine, J. Calvin, C. Wolff, dan J. Edward
    • Teori disiplin mental humanistik (humanistic mental discipline)
Tokohnya : Plato dan Aristoteles
  • Teori aktualisasi diri: manusia sebagai makhluk yang pada dasarnya baik dan mampu mengarahkan diri, manusia menjadi buruk karena pengaruh lingkungan sosial. Sehingga guru sebaiknya memberikan kebebasan pada anak dalam belajar dan memberi bantuan ketika anak mengalami kesulitan. Tokohnya : J.J. Rousseau, F. Froebel, dan Progressivits, sedangkan tokoh kontemporernya : P. Goodman, J. Holt, dan Abraham H. Maslow.
  • Teori apersepsi/Herbartianisme: proses belajar dipandang sebagai proses menghubungkan/asosiasi pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dikuasai anak. Ada empat macam hukum asosiasi:
    • hukum kedekatan (contiguity): anak akan mudah mengingat kembali dua peristiwa yang disajikan serentak jika salah satu peristiwa itu diperlihatkan.
    • Hukum urutan: penyajian materi pelajaran yang berurutan akan memudahkan proses belajar.
    • Hukum kemiripan: penyajian materi yang dikaitkan dengan materi lain yang mirip yang telah dikuasai anak dapat memudahkan proses belajar. Tokoh teori apersepsi: J. F. Herbert dan E.B. Titchener.
b. Teori belajar abad ke-20 :
  • Teori S-R (stimulus-responses) conditioning :
    • Teori S-R bond/ koneksionisme: proses belajar pada manusia pada hakikatnya mengikuti prinsip yang sama dengan yang terjadi pada hewan dan bentuk perubahan perilaku yang diamati terjadi melalui hubungan rangsang-jawaban menurut prinsip mekanistik. Tokohnya E.L. Torndike. Ada tiga hukum primer tentang proses belajar:
      • hukum kesiapan (law of readiness): jika seorang anak telah memiliki kesiapan untuk melakukan sesuatu dan diberi kesempatan untuk melakukannya, maka anak tersebut akan melakukan dengan sepenuh hati begitu juga sebaliknya.
      • Hukum latihan (law of exerxice or repetition): adanya penguasaan materi pelajaran yang semakin meningkat oleh adanya latihan/ulangan.
      • Hukum akibat (law of effect): kuat lemahnya hubungan rangsang-jawaban tergantung pada akibat yang diterima anak. Contoh: anak yang melakukan perbuatan lalu mendapat hadiah dari perbuatannya itu, maka ia akan cenderung mengulang perbuatannya tersebut, begitu juga sebaliknya.
    • Teori conditioning tanpa ulangan penguatan (conditioning with no reinforcement) atau classical conditioning: belajar sebagai proses pembentukan refleks bersyarat (a process of building conditioned reflexes) melalui penggantian rangsangan yang satu dengan yang yang lain. Watson mengungkapkan hukum associative shifting yaitu perilaku anak dapat dibentuk dengan jalan berulang-ulang perilaku yang diharapkandipancingdengan sesuatu yang memang menimbulkan perilaku itu. Berdasarkan pandangan bahwa proses belajar terjadi jika stimulus dan respons terjadi secara serempak, Edwin R. Guthrie mengemukakan hukum stimultaneous contiguous conditioning: stimulus yang muncul pada saat bersamaan dengan munculnya respons jika diulang cenderung menimbulkan respons tersebut. Menurut Newman dan Newman proses belajar melalui asosiasi untuk bayi berusia sekitar enam bulan, yaitu sebelum mampu menguasai keterampilan motorik mereka.
    • Teori conditioning melalui ulangan penguatan (conditioning through reinforcement) / instrumental conditioning/ operant conditioning. Hull mengemukakan teori belajar yang dikenal dengan teori drivestimulus reduction reinforcement -> proses belajar terjadi melalui adaptasi biologis dari organisme terhadap lingkungannya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Menurut Skinner, perilaku yang diharapkan dari anak dapat dibentuk melalui serangkaian kegiatan yang diawali dari perilaku yang telah dikuasai menuju perilaku yang diharapkan dengan memberi ulangan penguatan terhadap keberhasilan anak. Sedangkan proses belajar menurut Gagne adalah perlunya penguasaan prasyarat yang digunakan sebagai landasan untuk menguasai bentuk perilaku yang diharapkan. Dalam kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan adanya delapan jenjang kondisi belajar :
      • belajar tanda (signal learning)
      • belajar rangsang-jawaban (stimulus-response learning)
      • chaining
      • asosiasi verbal
      • belajar diskriminasi
      • belajar konsep
      • belajar aturan
      • pemecahan masalah
Menurut Bandura ada empat komponen dalam proses belajar melalui pengamatan:
      • perhatian
      • pencaman
      • reproduksi gerak motorik
      • ulangan penguatan dan motivasi
Faktor yang terlibat dalam pencaman menurut Bandura seperti yang dikutip oleh Shaw dan Costanzo (1985:58):
      1. penyandian simbolik
      2. organisasi kognitif
      3. pengulangan simbolik
      4. pengulangan mental
Semua proses belajar terjadi dalam dua macam hubungan, yaitu hubungan material (pertemuan anak dengan materi pelajaran) dan hubungan sosial (hubungan antara anak dengan guru dan antar sesama anak).
  • Teori kognitif :
    • Teori insight
    • Goal insight
    • Cognitivefield
Teori Kognitif ,belajar adalah proses pencapaian/ perubahan pemahaman (insight) , pandangan, harapan ,atau pola berpikir. Ada 4 tahap perkembangan kognitif menurut Piaget:
  • Tahap sensori-motorik (0:0-2:0)
  • Tahap praoperasional (2-7 tahun)
  • Tahap konkret-operasional (7-11 tahun)
  • Tahap formal-operasional (11 tahun / lebih)
Menurut Bruner, ada 3 tahapan dalam proses belajar:
  • Enactive : tahap yang ditandai oleh manipulasi secara langsung objek-objek berupa benda / peristiwa konkret.
  • Iconic : ditandai oleh penggunaan simbol dalam proses belajar.
Menurut Thomas H.Leahey dan Richard J.Harris : informasi dapat diproses , disimpan, dan dimunculkan kembali untuk digunakan bila diperlukan. Mulanya informasi masuk ke dalam tahapan iconic yang merupakan pemrosesan informasi sampai pada saraf sensorik. Jika anak mempunyai perhatian terhadap informasi tersebut, lalu akan masuk ke dalam ingatan jangka pendek. Dalam ingatan jangka pendek terjadi pengulangan dan penyandian. Melalui pengulangan, informasi akan tetap berada dalam ingatan jangka pendek, dan melalui penyandianlah informasi akan dimasukkan ke dalam ingatan jangka panjang dalam bentuk struktur kognitif yang selanjutnya dapat dipanggil kembali untuk digunakan dalam proses berpikir. Jadi teori kognitif memandang belajar sebagai proses pengolahan , penyimpanan, dan pemanggilan kembali informasi untuk digunakan bila diperlukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar